•Pengasuh Ponpes Madrasatul Qur’an Tebuireng, Jombang.
•KEPUTUSAN pemuda NU Jakarta untuk bersikap netral dalam pilgub DKI. Identik dengan para kiainya di jajaran Syuriah yang hingga kini membisu soal ini. Tak heran, siapa dulu dong bapaknya ? Artinya:
Pertama. Rupanya Penguasa NU sekrang tidak menganggap NASHBUL IMAM sebagai bagian dari agama, sehingga tidak masalah umat nahdliyin dipimpin nonmuslim. Lalu apa gunanya kiai sebagai pewaris Nabi ? Pernahkah nabi, para sahabat, tabi’in, al-salaf al-shalih, kiai-kiai pendiri NU membiarkan nonmuslim menguasai umat islam ? Sebagai muslim, Penjajah di tumpas bukan semata karena membela negara, tapi lebih karena agama. Makanya ada istilah perang SABIL, RESOLUSI JIHAD dll. Pejuang Yang gugur di hukumi syahid, tanpa di mandikan, tanpa di kafani, tanpa di shalati.
Kedua. Nashbul Imam adalah masalah agama yang sangat serius. Karena pemimpin adalah penentu kebijakan yang berdampak besar kepada rakyat. Jika pemimpin non muslim menentukan kebijakan yang merugikan islam atau umat islam, demi Allah mereka yang memilih dia berdosa, termasuk yang membiarkan tanpa fatwa agama, apalagi tim suksesnya.
Ketiga. Netral, memangnya NU itu KPU ? Jika para cagub seiman, wajar NU netral. Tapi ini beda. Isu SARA di larang jika untuk memprovokasi, menfitnah, merendahkn dll. Tapi apa salahnya, apa yang di langgar bila muslim memilih pemimpin seiman dan menolak yang tidak seiman tanpa merendahkan keimann yang lain. Adalah hak bagi setiap warga memilih pemimpin sesama suku, tanpa merendahkn suku lain. Sesama Ras, tanpa menfitnah Ras yang lain atau sama Adat tanpa menghina adat lain. Itu hak berdemokrasi.
Keempat. Sangat memprihatinkan jika NU hanya vokal soal tahlilan, yasinan, ziarah kubur yang diganggu. Tapi tidak punya nyali memberi fatwa politik yang agamis dan demokratis. Padahal ini masalah besar terkait kemaslahatan umat baik di dunia lebih-lebih di akhirat. Hanya muslim minimalis (musailim) yang memandang politik hanya masalah dunia. Sadarilah, Tercatat 65 kali perang (ghazwah dan sariyah) selama periode Nabi demi memaslahatkan umat via kekuasaan.
Kelima. Sekelas Syuriah NU tidak mungkin tidak mengerti ini. Bisunya mereka pasti ada sesuatu yang amat dahsyat hingga menyebabkan amanat agama mereka tersandera. Dan umat sudah tahu hal itu dari omongan mereka sendiri ?
Keenam. Kiai Syuriah NU bukanlah kiai pesanan, bukan pula kiai jadian yang di jadikan oleh para broker Politik. Kiai Syuriah adalah benar-benar ulama pewaris Nabi yang di pilih secara mukhlis dan bersih dari sum’ah dan ambisi sehingga memiliki sifat syaja’ah yang terpuji, selalu “YAKHSYA ALLAH” dan tidak “YAKHSYA AL-NAS”. Harusnya… Kiai Syuri’ah NU bukan Kiai yang di peralat broker politik. Kiai NU adalah Kiai yang mukhlis, ikhlas. Tidak sum’ah, yang beramal untuk di perdengarkan. Miliki sifat syaja’ah, berani karena Allah dan Rasulullah. Selalu Yakhsya Allah, hanya takut pada Allah. Tidak Yakhsya Al Naas, takut pada manusia, celaan orang-orang yang mencela.
*Artikel ini beredar secara viral di medsos dan blog, kami kesulitan menemukan sumber pertama.
By Rifki M Firdaus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar